CAFE NIGHT CAMPAIGN: PEMANASAN GLOBAL, PERUBAHAN IKLIM, FOOD WASTE DAN #BeliYangBaik



Hai, SobatEH! Sabtu (17/02/2018), Earth Hour Malang telah mengadakan Aksi #CafeNightCampaign di beberapa kafe dan resto di Malang, yaitu C2C, Cokelat Klasik, Bukit Delight, dan Kedai Pak Cik Abin. Aksi #CafeNightCampaign kali ini terdiri dari dua Aksi yang menarik yaitu talk show dan Aksi Table to Table.

Pemanasan global, perubahan iklim dan tanaman kopi.

Talk show yang dilakukan pada main café yaitu C2C ini membahas tentang dampak pemanasan global dan perubahan iklim terhadap produksi dan kualitas kopi yang dihasilkan, serta manfaat kopi sebagai pupuk. Narasumber pada talkshow kali ini adalah Pak Sivaraja sebagai pemilik dari Amstirdam Coffee, Pak Gito sebagai petani kopi di Karangploso, Malang dan Kak Rere sebagai perwakilan dari Komunitas Zona Bening.


Perubahan iklim merupakan dampak dari pemanasan global. pemanasan global dapat terjadi karena berlebihnya gas rumah kaca pada atmosfer bumi. Gas rumah kaca meningkat dapat terjadi secara alami dan dapat pula disebabkan oleh aktivitas manusia. Contoh timbulnya gas rumah kaca disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu pembukaan lahan dan pembakaran bahan bakar fosil. pemanasan global dari alam dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya kebakaran hutan dan letusan gunung api. Jenis-jenis dari gas rumah kaca yang utama di atmosfer bumi adalah CO2 (Karbon dioksida),CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) dan SF6 (Sulphur hexafluoride).

Pemanasan global dan perubahan iklim berdampak pada kelangsungan hidup tanaman, salah satunya adalah kopi. Kopi merupakan tanaman yang tumbuh di daerah yang memiliki cuaca tidak boleh terlalu panas atau dingin dan tidak boleh terlalu kering atau basah. Adanya pemanasan global dan perubahan iklim mengakibatkan siklus pertumbuhan dari tanaman kopi pun terganggu. Contohnya adalah tanaman kopi jenis Arabika biasanya ditanam pada pegunungan yang beriklim dingin. Namun dengan adanya pemanasaan global, saat ini cuaca di pegunungan menjadi hangat dan mempengaruhi pertumbuhan dari kopi Arabika. 

Akibat perubahan iklim, lahan tanam tumbuhan kopi Arabika berkurang sebanyak 50%. Di Amerika Selatan dan Afrika, tanaman kopi terserang penyakit jamur daun kopi. Penyakit tersebut merupakan ditimbulkan oleh peningkatan suhu dan curah hujan karena perubahan iklim di bumi. Penyakit daun kopi (La Rolla) telah menyebabkan kerugian pada petani kopi di Negara Peru sebesar 40%.

Ampas kopi ternyata masih dapat dimanfaatkan!

Tanaman kopi yang biasa SobatEH nikmati dalam wujud minuman hangat ternyata memiliki manfaat lain, yaitu sebagai pupuk. Loh kok bisa? Bisa dong! Limbah kopi atau biasa SobatEH kenal dengan sebutan ampas kopi yang setelah SobatEH minum langsung dibuang itu sebenernya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Hal ini karena ampas kopi dapat meningkatkan kadar air dan aerasi di dalam tanah. Pupuk kopi adalah sumber fosfor dan potassium yang baik bagi tanah karena pupuk kopi dapat dikatakan sebagai pupuk organik. Pupuk kopi cocok untuk dimanfaatkan pada tanaman kacang panjang, cabai, dan tomat. Ampas kopi sendiri juga dapat SobatEH manfaatkan sebagai pestisida alami loh, karena dapat mencegah semut dan siput yang akan merusak tanaman.

SobatEH yang ingin memanfaatkan ampas kopi sebagai pupukpada tanaman? caranya mudah loh. Hal yang SobatEH perlu lakukan adalah  mengeringkan ampas kopi terlebih dahulu. Setelah kering, ampas kopi ditaburkan pada tanah disekitar tanaman dan SobatEH tinggal menunggu sambal menikmati secangkir kopi hangat. Di tanah, ampas kopi tersebut akan diubah menjadi bahan mineral oleh cacing sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanah dan akan berdampak baik pada tumbuhan.SobatEH yang ingin memanfaatkan ampas kopi sebagai pupuk pada tanaman caranya mudah. Jadi yang SobatEH perlu lakukan adalah ampas kopi dikeringkan, setelah kering ampas kopi ditaburkan pada tanah disekitar tanaman dan SobatEH tinggal menunggu sambal menikmati secangkir kopi hangat. Di tanah ampas kopi tersebut akan diubah menjadi bahan mineral oleh cacing sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanah dan akan berdampak baik pada tumbuhan.

Serunya Kampanye Table to Table!

Kampanye table to table pada aksi cafe night campaign ini dilakukan di beberapa cafe dan resto seperti Bukit Delight, Cokelat Klasik, dan Kedai Pak Cik Abin. Kampanye ini dilakukan dengan mendatangi pengujung setiap meja dan mengampanyekan tentang #Foodwaste dan #BeliYangBaik. Selain menyampaikan materi, dilakukan juga games menyusun kartu urutan distribusi makanan dari petani hingga ke konsumen. Aksi ini bertujuan untuk menginformasikan dan mengajak masyarakat untuk membantu mengurangi sampah dengan meminimalisir atau tidak melakukan Foodwaste, serta mulai membiasakan diri untuk membeli produk – produk yang ramah lingkungan.



Kenapa Food waste harus dicegah?

Limbah makanan atau food waste dapat berdampak pada pemanasan global yang menjadi penyebab dari perubahan iklim. Korelasi antara limbah makanan dengan perubahan iklim dilihat dari jejak karbon. Berdasarkan dari penelitian, 1,3 milyar ton limbah per tahun setara dengan 3,3 giga ton CO2. Maka dari itu dapat dikatakan limbah makanan juga merupakan penyebab dari pemanasan global. Limbah makanan sendiri dihasilkan dari proses produksi hingga konsumsi.


 Limbah makanan dapat SobatEH kurangi dengan menyimpan makanan pada tempat yang baik agar makanan tidak cepat kadaluarsa, menyimpan makanan di kulkas sehingga SobatEH dapat memakan di lain waktu, menyumbangkan makanan yang berlebih dan belanja dan memasak makanan seperlunya.



Kenapa #BeliYangBaik?

Apakah SobatEH menyadari terdapat kata “jejak karbon” pada paragraf sebelumnya? Nah, apa itu “jejak karbon”? Jejak karbon adalah aktivitas manusia yang menghasilkan emisi dari gas rumah kaca. Jejak karbon ada dua macamnya, primary carbon footprint dan secondary carbon footprint. Produk – produk yang SobatEH konsumsi masuknya kedalam kategori secondary carbon footprint. Dengan mengetahui jejak karbon, SobatEH jadi tau seberapa besar dampak dari apa yang SobatEH konsumsi terhadap lingkungan sekitar.

Itu lah mengapa dikatakan bahwa apa yang SobatEH beli adalah apa yang SobatEH dukung, karena apapun produk yang SobatEH konsumsi memiliki jejak karbonnya. Sebanyak 68% dari jejak karbon berasal dari produk – produk rumah tangga dari mandi, mencuci, memasak hingga tahapan membuang kemasan. Jejak karbon pada produk – produk terdapat dari tahapan penyediaan bahan baku, pengiriman, pengolahan, pengemasan, hingga tahapan konsumsi.

Jadi, yuk SobatEH bantu meringankan beban bumi kita dengan tidak melakukan Food waste dan menerapkan #BeliYangBaik dalam kehidupan sehari-hari, karena peningkatan suhu 1 derajat bumi bukan lah perkara sederhana. Mulai dari hari ini, untuk lingkungan sekitar yang lebih baik lagi.


Sumber:

SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar: