Kurangi Emisi, Naik Angkot & Penanaman Mangrove Sebagai Upaya Penyambutan Hari Tanpa Emisi Sedunia


(21/09/2017) Saat itu, sore tidak secerah biasanya. Mendung. Nyaris hujan. Keramaian lalu lintas tetap terjadi di sudut kota. Namun, ada yang berbeda kala itu. Segerombol orang berpakaian hitam bertuliskan 60+ tampak berdiri dengan antusias di dua titik Jalan Veteran. Lain halnya dengan Jalan Veteran, langit di atas Jalan Trunojoyo justru tampak cerah menghias hari yang semakin petang. Hawa yang berbeda, namun performa yang tetap sama terjadi di sana, tepatnya di depan Stasiun Baru Kota Malang yang terbagi menjadi dua titik. Sekumpulan orang berpakaian hitam dengan logo 60+ ini biasa disebut Earth Hour Malang (EHM). Mereka merupakan komunitas non profit dan memiliki konsen akan isu lingkungan, khususnya listrik.


Selain tersohor sebagai kota berhawa dingin, Malang juga dikenal sebagai Kota Pendidikan yang dipenuhi banyak pendatang dan kendaraan bermotor dari berbagai daerah. Para pendatang kebanyakan adalah mahasiswa yang rata-rata menggunakan sepeda motor dalam kesehariannya. Seperti yang diketahui bahwa bahan bakar fosil yang juga menjadi penghasil emisi gas rumah kaca dapat menyebabkan perubahan iklim. Hal inilah yang terjadi di Kota Malang, dimana kepadatan motor mampu memperbanyak gas emisi, yang berdampak pada kenaikan suhu udara dan menurunnya kualitas udara di Kota Malang. Bertolak dari kesadaran akan hal tersebut, diperingatilah Hari Bebas Emisi Sedunia. Kegiatan yang bertajuk “KENA DAY (Kurangi Emisi, Naik Angkot)” ini dilakukan oleh EHM dengan tema “Mengurangi Emisi”, kalimat ini seakan memang bergetar penuh semangat sesuai dengan konteksnya.



Dalam pelaksanaan kegiatan ini, volunteer  EHM terbagi menjadi dua kelompok besar yang bertempat di Jalan Veteran serta Jalan Trunojoyo. Aksi dimulai pukul 15.00 WIB. Kala itu, cuaca yang sedikit mendung tidak menjadi alasan ciutnya semangat tim aksi di Jalan Veteran. Terdapat dua titik dimana anggota EHM tersebar dan menunggu angkot berhenti, yaitu di depan SMAN 8 Malang serta di depan parkiran angkot Mall Malang Town Square (Matos). Sama halnya dengan tim aksi di Jalan Veteran, tim yang tersebar di Jalan Trunojoyo pun terbagi dalam dua titik untuk melakukan aksi, yaitu di depan patung singa dan di depan Taman Trunojoyo. Lalu,  seluruh tim yang telah terbagi di empat titik tersebut menunggu angkot yang sedang berhenti, entah sedang mencari ataupun menurunkan penumpang. Waktu tidak panjang inilah yang dimanfaatkan oleh tim untuk melakukan sosialisasi secara singkat di dalam angkot.


Tujuan utama dari aksi EHM kali ini adalah untuk menyebarkan kesadaran pada masyarakat terkait permasalahan emisi di Kota Malang. Memang, dalam era pesatnya teknologi seperti saat ini, penggunaan mesin-mesin maupun alat elektronik telah menjadi aspek penting dalam kehidupan manusia. Contoh sederhananya, kita telah terbiasa bepergian dengan kendaraan bermotor, hingga kepemilikan kendaraan bermotor pribadi pun menjelma menjadi kebutuhan pokok. Penggunaan kendaraan bermotor pribadi yang begitu lumrah ini pada akhirnya menjadikan masyarakat terbuai akan kemudahan semata dan lupa dengan dampak lingkungan yang dihasilkan.

Ya, emisi kendaraan bermotor. Hal yang klasik memang, tapi nyatanya tak pernah mendapat perhatian intens dari masyarakat. Yang umum diketahui sebagai akibat dari emisi kendaraan bermotor mungkin hanya pencemaran udara. Tapi apakah benar hanya itu? Kalaupun hanya itu, pencemaran udara tidak bisa dipandang sebagai permasalahan yang sederhana. Ada beberapa permasalahan atau akibat yang didapat dari menumpuknya emisi, baik dari kendaraan bermotor, pabrik, serta gas buang lainnya, salah satunya dalam proses pembakarannya, kendaraan bermotor akan mengeluarkan hasil pembakaran berupa gas buang yang mengandung berbagai pencemar (polutan). Pada umumnya gas-gas yang terkandung merupakan gas berbahaya antara lain Karbon Monoksida (CO), Hidro Karbon (HC), Sulfur Oksida (Sox), Oksida Nitrogen (Nox), asap, dan Timbal (Pb). Gas-gas inilah yang dapat mengganggu mahkluk hidup karena pada konsentrasi tertentu, parameter-parameter tersebut dapat mengakibatkan kematian, sehingga meningkatnya jumlah kendaraan bermotor disamping membawa manfaat juga membawa kerugian.



Pemberian apresiasi kepada pengguna angkutan umum, terutama angkot juga dijadikan sebagai tujuan aksi ini. “Hal ini dikarenakan melihat kendaraan pribadi yang di gunakan semakin banyak yang mana itu menghasilkan emisi yang lebih besar. Tapi jika kita naik angkot kan satu mobil buat banyak orang, jadinya dapat mengurangi penggunakan kendaraan pribadi dan emisi”, jelas Penta sebagai Ketua Pelaksana Aksi Kena Day. Selain itu, pemberian edukasi tentang pentingnya pengurangan emisi juga dijelaskan oleh beberapa tim dengan ikut masuk ke dalam angkot yang sedang berhenti. Pemberian beberapa pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh penumpang juga dilakukan sebagai bentuk komunikasi dua arah. Sebagai bentuk apresiasi kepada penumpang, tim memberikan note yang didaur ulang menggunakan kertas bekas. Tak lupa tim juga menempelkan stiker di pintu angkot berupa ajakan untuk menggunakan angkutan umum, yaitu angkot. Andrian, salah satu penumpang mengatakan bahwa ia tentu lebih memilih menggunakan angkot karena harganya yang murah dan tentunya efek yang bisa memberikan perubahan untuk lingkungan di Kota Malang. Ditandai ketika petang mulai rinai, aksi pun selesai pada pukul 17.00 WIB.





Aksi tak berhenti sampai di situ saja karena di hari Minggu (24/09), EHM melakukan penanaman Mangrove di Desa Tambakrejo, Kabupaten Malang. Ditandai dengan matahari terbit, EHM mulai berkumpul di Jalan Veteran. Sesuai dengan tema aksi kemarin, EHM melakukan satu hari mengurangi emisi dengan menggunakan kendaraan umum. Tepat pukul 09.00 WIB tibalah di Desa Tambakrejo yang disambut antusias oleh Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas terkait Mangrove (Pokmaswas), Bapak Jauhari. Kemudian kami melangkah menuju salah satu muara yang masih asri dan tidak terjajah oleh manusia. Jalan yang dilewati tidak begitu terjal, namun harus menyebrangi perairan yang sudah mulai pasang. Sesampai di lokasi, sebanyak 250 bibit mangrove telah di tanam pantai tersebut. Pukul 11.00 WIB ditandai dengan naiknya matahari yang semakin terik membuat kami telah menyelesaikan penanaman mangrove. Dilanjutkan dengan ishoma, lalu kami menuju ke Pantai Tamban untuk sekedar melepas penat. Selagi matahari sudah asyik menerangi, tiba saatnya dimana kami harus pulang kembali ke Malang. Dan rangkaian aksi dalam menyambut serta merayakan Hari Bebas Emisi Sedunia telah selesai pukul 17.00 WIB.





Tahukah kalian SobatEH selama ini mangrove atau hutan bakau dikenal sebagai penahan abrasi terhadap tsunami dan sebagai ekosistem penting yang mendukung berkembang biaknya ikan dan kepiting? Namun sering terlewatkan bahwasanya bakau juga diketahui memiliki fungsi penting sebagai penyerap emisi karbondioksida yang lebih efektif jika dibandingkan hutan hujan atau lahan gambut. Bukan rahasia lagi jika emisi karbondioksida inilah yang mendorong terjadinya perubahan iklim. Hal ini juga dikatakan oleh ketua Pokmawas disana jika dengan melakukan penanaman Mangrove mampu menumbuhkan kesadaran antar warga bahwa kepedulian akan lingkungan bukan menjadi hal yang tabu namun harus menjadi hal yang selalu dilakukan setiap waktu.





Tidak dipungkuri, semakin hari, dunia akan selalu mengalami perkembangan, salah satunya teknologi. Ketika teknologi berkembang, seringkali ditakutkan menjadikan manusia semakin acuh ataupun dikenal sebagai manusia satu dimensi. Nah SobatEH, berawal dari isu-isu lingkungan, terutama banyaknya gas penghasil emisi, diharapkan membuat kita mampu untuk menghentikan konsumsi energi terutama yang berasal dari bahan bakar fosil. Salah satunya, terapkan satu hari untuk menggunakan angkutan umum sehingga menjadi kebiasaan sehari-hari. Dengan menerapkan aksi kecil yang kita tanamkan dari diri kita mampu membuat bumi beristirahat satu hari dalam satu tahun. Selamat Hari Bebas Emisi Sedunia, SobatEH! Salam Lestari.

Sumber: www.bbc.com


SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment