#NGALAMPETENGAN 2017: DARI SAMPAH MENJADI KARYA, DARI KARYA MENJADI BERKAH


Langit yang semula cerah berubah menjadi awan gelap disertai rintikan air hujan yang menetes hingga mengguyur membasahi Kota Malang. Dari sore hingga malam hari itu, hujan tak kunjung reda, namun di satu titik Balai Kota Malang ada harapan dan juga tujuan yang tidak hanya sekedar menunjukkan eksistensi namun inisiasi publik yang ingin menyatukan masyarakat dari seluruh dunia untuk merayakan komitmen gaya hidup hemat energi dengan cara mematikan lampu dan alat elektronik yang sedang tidak dipakai selama 1 jam. Meskipun hujan turun sangat lebat dari sore hingga malam hari, dapat dilihat beberapa Volunteer Earth Hour Malang yang dibalut dengan jas hujan tetap siap di perayaan aksi terbesar Switch Off #NgalamPetengan2017. Seperti yang kita tahu bahwa Switch Off merupakan seremonial yang dilakukan oleh seluruh komunitas Earth Hour di seluruh dunia untuk mematikan lampu dan alat elektronik selama satu jam. Dan kali ini, Earth Hour Malang yang juga sudah turut berpartisipasi dari tahun 2012, kembali merayakan Aksi Switch Off 2017 #NgalamPetengan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 Maret 2017 dan bertempat di Balaikota Malang.

FROM MOMENT TO MOVEMENT



Tiap tahunnya Earth Hour Malang memiliki tema-tema khusus untuk memperingati Switch Off. Tahun 2017 ini Earth Hour Malang mengusung tema mengenai sampah. Tema tersebut diangkat dengan melihat fakta bahwa produksi sampah di kota Malang semakin meningkat tiap tahunnya yang berujung ditutupnya empat Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) karena overload  sehingga hanya tersisa satu TPSA saja. Hal tersebut yang mendasari Wahyu Rendi Kusbianto sebagai Ketua Pelaksana Switch Off 2017 untuk mengangkat tema sampah dengan tagline “Dari Sampah Menjadi Karya, Dari Karya Menjadi Berkah”. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Frido Wahyu selaku Koordinator Earth Hour Malang bahwa di setiap wilayah memiliki ciri dan khasnya masing-masing dalam menyelenggarakan Earth Hour dan untuk Kota Malang memasukkan konten “Mengurangi Pemakaian Plastik Sebagai Langkah Reducing” karena dewasa ini seharusnya bukan lagi membuang sampah pada tempatnya tetapi juga mengurangi sampah.
Dengan bertemakan sampah menjadikan dekorasi yang digunakan dalam Switch Off 2017 memanfaatkan proses daur ulang dari sampah plastik, seperti botol bekas air minum yang dijadikan hiasan, gate ecobric dan pameran patung yang berasal dari sampah otomotif. Selain itu, untuk mengurangi penggunaan sampah plastik, terdapat stand workshop yang membuat reuseable bag yang berasal dari baju bekas. Tujuan pembuatan dan penggunaan Reuseable bag ini adalah sebagai pengganti kantong plastik yang dapat digunakan berkali-kali yang akan membuat pengurangan sampah plastik sehingga menjadi ramah lingkungan.

HUJAN BUKAN HALANGAN, SEMANGAT YANG TAK PERNAH PADAM



SobatEH, walaupun hujan deras mengguyur Kota Malang di hari itu dapat dilihat Volunteer Earth Hour Malang tetap dapat menjaga semangatnya hingga aksi selesai. Di tengah guyuran air hujan, aksi seremonial ini tetap berjalan. Hal ini juga sempat diungkapkan oleh Duta Earth Hour Malang 2017, yaitu Ade Auliya, “Sedih juga karena hujan, tapi saya melihat panitia tetap semangat bekerja keras dan kompak, jadi hujan bukan jadi halangan”.
Earth Hour Malang mengundang beberapa Guest Star dan Duta untuk turut hadir memeriahkan aksi. Aksi Switch Off 2017 yang dipandu oleh Claudia dan Rizki Boncel ini dibuka pukul 18.00 wib dengan penuh semangat ditengah hujan. Dilanjut dengan sambutan Ketua Pelaksana Wahyu Rendi dan Koordinator Earth Hour Kota Malang Frido Wahyu. Selain itu, Bapak Pandu selaku Perwakilan Bappeda Kota Malang juga turut memberikan sambutan dan apresiasi kepada Earth Hour Kota Malang yang sudah 6 tahun melakukan Aksi Switch Off sebagai pijakan yang penting yang tidak hanya dilakukan selama 60 menit, namun menjadikan Aksi Switch Off sebagai gaya hidup yang harus diterapkan setiap harinya. Selain itu, Bapak Pandu menghimbau bahwa melakukan Save Earth harus secara maraton dan juga berkesinambungan, sehingga dibutuhkan tanggung jawab dari diri sendiri dan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.




Setelah itu, Guest Star juga menampilkan performa terbaik mereka seperti tari tradisional dari SMAN 10 Malang, kekompakan dari Malang BeatBox, Suara Merdu dan harmonis dari Voix Acapella, tarian api dari Nunchaku Fire Dance dan ditutup oleh performance dari Band Indie Malang sekaligus Duta Earth Hour Malang yaitu Wakeup Iris. Tak hanya itu saja SobatEH, dalam perayaan Aksi ini, Earth Hour Malang mengadakan Live Talkshow yang membahas mengenai perkenalan pameran dan perkenalan Duta Earth Hour Malang. Duta-duta Earth Hour Malang tersebut adalah Ade Aulia yang merupakan Runner Up Miss Indonesia Jawa timur 2016, Yuwono yang merupakan Food Blogger, Band indie Kota Malang yaitu Wake Up Iris!, dan Ryuji yang merupakan atlet Pesepak Bola Nasional.



Pada pukul 20.30 wib Aksi Switch Off ditandai dengan mematikan lampu di 18 titik Kota Malang selama satu jam. Hal inilah yang menjadi penanda awal, dimulai dari mematikan lampu ataupun elektronik karena hal tersebut sangatlah mudah dan cepat sehingga pada akhirnya hal tersebut dijadikan sebagai gaya hidup yang dilakukan setiap hari.

AKSI KECIL YANG BERDAMPAK BESAR



Dengan melakukan aksi kecil seperti mematikan listrik selama satu jam, maka akan dapat menghemat pemakaian energi listrik yang akan membantu melestarikan bumi kita. “Sebenarnya aksi yang dilakukan EH Malang ini adalah langkah kecil yang hasilnya cukup signifikan.  Hal simple ketika disadari oleh semua orang dan dilakukan maka akan sangat baik untuk bumi”, ungkap Yuwono yang merupakan duta Earth Hour Malang. Selain itu, Voix Acapella juga mengatakan jika setiap orang ikut dan turut serta maka akan berdampak besar bagi kehidupan. Oleh karena itu, semua yang berdampak besar itu harus dimulai dari hal yang kecil.
Selain penghematan energi, Food Bloger yang merupakan salah satu Duta Earth Hour Malang 2017 ini sangat antusias untuk mengajak masyarakat dalam mengurangi sampah makanan (food waste). “Dalam islam food waste itu mubadzir, secara tidak langsung kita harus bersyukur atas nikmat yang telah diberikan, dan belum banyak yang mengetahui mengenai sampah makanan yang membludak” ujar Yuwono ketika ditanya mengapa mau mengkampanyekan food waste.


SobatEH, dewasa ini melihat perubahan iklim sudah menjadi ancaman kehidupan di bumi akibat pemanasan global. Salah satu cara menunda pemanasan global dan krisis lingkungan lain yaitu dengan mengajak setiap individu untuk mengubah gaya hidup dan menerapkan aksi kecil yang selalu konsisten sehigga bisa mengurangi kerusakan yang terjadi pada lngkungan kita. Wake Up Iris! yang sudah 2 tahun menjadi Duta Earth Hour Malang mengungkapkan bahwa 60 menit hanyalah simbol, gerakan yang nyata berasal dari diri kita sendiri melalui refleksi diri dan peka terhadap lingkungan. Aksi mematikan lampu inilah yang harus tetap dilakukan secara terus menerus dan tidak hanya 60 menit. “Selain itu, untuk mengkorelasikan aksi yang diadakan oleh Earth Hour Malang kepada masyarakat luas untuk ikut serta ini tentunya diperlukan KolaborAksi karena pada prinsipnya Earth Hour Malang mengidekan konsep aksi yang lebih nyata dan menyentuh agar tepat guna bagi masyarakat”, jelas Frido. Sehingga, untuk menyebarkan pengetahuan ini dibutuhkan penerapan gaya hidup hijau yang tidaklah sulit dilakukan, namun diperlukan waktu dan tempat untuk membiasakan diri yang intinya semua harus bersama-sama mendukung.




Nah, SobatEH 6 tahun Earth Hour Malang mengadakan Aksi Switch Off tentu terdapat banyak kritik dan saran yang dibangun dari banyak pemikiran masyarakat diberbagai kalangan. Seperti yang diungkapakan oleh Yuwono selaku Duta Earth Hour Malang 2017 bahwa diperlukan kontinuitas untuk melakukan aksi yang dijadikan sebagai gaya hidup, dan juga proses perekrutan Volunteer Earth Hour Malang yang perlu diberi sedikit penambahan, seperti calon yang akan mendaftar diharapkan mempunyai sumbangsih terhadap lingkungan karena hal itu memungkinkan terjadinya karakter individu yang sudah terbentuk sebagai tanggung jawab terhadap lingkungan sejak dini. Selain itu, Wake Up Iris! yang juga merupakan Duta Earth Hour Malang berharap bahwa Earth Hour Malang bisa merekrut musisi lebih banyak untuk dijadikan Duta karena musisi mampu menyebarkan ajakan melalui syair lagu yang disukai oleh berbagai masyarakat.


Oleh karena itu, SobatEH! Mari kita terus menjaga bumi kita yang semakin tua ini dengan melakukan aksi kecil yang akan membawa perubahan besar. Aksi hijau sederhana yang dapat kita lakukan seperti membawa tumblr, mematikan lampu yang tak terpakai, mengurangi kertas, mengurangi pemakaian bahan bakar mesin, merawat tanaman dan lain sebagainya. Hal tersebut sangatlah bermanfaat untuk bumi kita kedepannya. Jadikan gaya hidup hijau sebagai kebiasaan ya SobatEH!


SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment