BANJIR: PENYEBAB DAN PENCEGAHAN

Hai SobatEH! Hujan biasa terjadi di Bulan Oktober hingga Maret (Bmkg.go.id), sehingga wajar bila akhir-akhir ini musim hujan sering mengguyur beberapa daerah. Curah hujan yang tinggi tentu akan menyebabkan saluran tanah dan akar bekerja lebih berat untuk menyerap air. Namun, apabila akar tidak bekerja maksimal ditambah sistem drainase yang buruk, tentu hal ini akan menyebabkan terjadinya banjir. Banjir dikenal sebagai peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam suatu daratan. Oleh karena itu, banjir bisa dikatakan sebagai bencana alam karena merugikan banyak makhluk hidup di sekitar. Penyebab banjir bisa disimpulkan karena faktor alam dan juga faktor manusia. Faktor alam disebabkan karena curah hujan yang tinggi dan tidak diimbangi dengan daerah resapan air yang baik. Secara alamiah, hujan akan terserap di dalam tanah yang kemudian diikat oleh akar pepohonan dan dialirkan lagi melalui aliran air seperti sungai yang pada ahirnya bermuara lagi di lautan. Namun di sisi lain, faktor kesadaran manusia yang rendah dapat menyebabkan terjadinya banjir. Seperti, aktivitas membuang sampah tidak pada tempatnya, tidak adanya pemilahan sampah, menggunduli hutan yang menyebabkan berkurangnya ruang hijau, serta aktivitas lain yang dapat merusak lingkungan.

Nah oleh karena itu, dibutuhkan penanganan serius yang dapat mengurangi terjadinya banjir. Salah satunya dengan menerapkan lubang resapan biopori (LRB) yang bermanfaat untuk mengurangi genangan air dan sampah organik. Lubang Resapan Biopori (LRB) adalah lubang silindri yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10-30 cm, kedalaman sekitar 100 cm atau tidak melebihi kedalaman muka air tanah (bplhd.jakarta.go.id). Kemudian, lubang diisi dengan sampah organik yang berfungsi untuk menghidupkan mikroorganisme tanah, seperti cacing, yang akhirnya cacing tanah ini akan membentuk pori-pori atau terowongan dalam tanah (biopori) yang dapat mempercepat resapan air ke dalam tanah secara horizontal. Selain dapat meresap air lebih cepat, LRB dapat menjadikan sampah rumah tangga sebagai kompos yang dimasukaan ke dalam lubang tanah. Manfaat yang penting dalam menerapkan LRB  tentunya dapat mengurangi dampak bencana akibat genangan air dan tumpukan sampah yang dapat menyebabkan penyakit demam berdarah ataupun malaria, dan juga membantu mengurangi pemanasan global.




Selain itu, cara untuk mencegah terjadinya banjir dengan menghidupkan kembali  ruang terbuka hijau. Salah satunya, dengan memanfaatkan fungsi pohon, menjaga dan merawat pohon, serta melestarikan fungsi pohon. Sehingga, ketika musim hujan tiba, kerapatan pohon pada areal yang luas mampu menyerap air ke dalam tanah dan tersimpan di dalam akar. Dengan menciptakan kembali ruang terbuka hijau, dapat mengatur hidro-orologis berfungsi dengan baik. Cara lain untuk mencegah terjadinya banjir dengan menerapkan dan membangun kesadaran dalam memberlakukan sampah. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya, dan juga memanfaatkan sampah menjadi produk yang lebih bernilai serta bermanfaat (mendaur ulang sampah). Dengan menerapkan sikap yang bijak dan menanamkan pada diri sendiri, tentu aktivitas yang negatif seperti membuang sampah di sungai tidak lagi dilakukan mengingat hal tersebut dapat menghambat arus daerah aliran sungai dan menyebabkan meluapnya volume sungai ketika musim hujan tiba.

Di Wilayah Jawa Timur, khususnya Malang akhir-akhir ini juga di landa hujan, terlebih lagi, beberapa daerah di Malang terendam banjir. Data yang didapatkan dari dibi.bnpb.go.id disebutkan bencana banjir di Jawa Timur memakan korban meninggal sebanyak 5 orang dan korban yang mengungsi sebesar 15.746 di Tahun 2016. 



Untuk mengatasi hal tersebut, bukan hanya Earth Hour Malang tetapi juga Earth Hour Kota di Jawa Timur lainnya telah melakukan aksi penanaman pohon. Karena cara untuk mencegah terjadinya banjir adalah dengan menghidupkan kembali ruang terbuka hijau. Salah satunya, dengan memanfaatkan fungsi pohon, menjaga dan merawat pohon, serta melestarikan fungsi pohon. Sehingga, ketika musim hujan tiba, kerapatan pohon pada areal yang luas mampu menyerap air ke dalam tanah dan tersimpan di dalam akar. Sehingga, dengan menciptakan kembali ruang terbuka hijau, dapat mengatur hidro-orologis berfungsi dengan baik. Sehingga, dengan mengetahui manfaat LRB dan Pohon, dapat kita terapkan sebagai bentuk Aksi pencegahan banjir sejak dini. Dengan begitu, kita dapat berpengaruh besar terhadap lingkungan dengan memberikan interaksi dan sentuhan positif terhadap alam. Melihat kembali bahwa manusia dan alam hidup berdampingan dan saling tergantung. Dengan menerapkan pola perilaku yang hijau, tentunya mampu menekan bencana alam yang dapat merugikan manusia dan ekosistem lainnya.
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment