Kunjungan Earth Hour Malang di TPST 3R Mulyoagung Bersatu


Earth Hour Malang pada hari Sabtu, 9 April 2016 lalu, mengadakan Kumbang (kumpul belajar bareng). Kumbang kali ini diikuti oleh volunteer Earth Hour Malang, yang diadakan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Mulyoagung Bersatu di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012, TPST memiliki singkatan yaitu Tempat Pengolahan Sampah Terpadu. Disinilah dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang, pengolahan, dan pemrosesan akhir. Berdasarkan pengertian tersebut, TPST merupakan tempat pengolahan sampah dengan menerapkan fungsi 3R (recycle, reuse, dan reduce) sebelum sampah tersebut diserahkan ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
Gambar 1. Bu Farida, wakil TPST Mulyoagung, memberi informasi kepada volunteer

 TPST 3R Mulyoagung Bersatu telah berdiri sejak tahun 2009 dan baru beroperasi secara total sejak tahun 2011. Pembangunan TPST 3R Mulyoagung Bersatu awalnya didasari terjadinya pencemaran lingkungan di daerah aliran sepanjang Sungai Brantas yang dulunya dijadikan tempat pembuangan sampah dari desa Mulyoagung, terjadinya penumpukan sampah akibat minimnya penanganan terhadap sampah, dan banyak lahan yang dimiliki oleh Desa Mulyoagung namun tidak dimanfaatkan dengan baik padahal jumlah pengangguran sangat banyak. Pembangunan TPST 3R Mulyoagung Bersatu diketuai oleh Bapak F. Supadi dari Kelompok Swadaya Masyarakat Desa Mulyoagung.

SobatEH harus tahu hal apa sih yang membuat TPST 3R Mulyoagung Bersatu ini menjadi unik? TPST ini memiliki prinsip kerja yang tidak hanya sekedar 3R (recylce, reduce, dan reuse), ada satu prinsip yang ditambahkan lagi yaitu Zero Waste. Prinsip Zero Waste merupakan pemanfaatan sampah secara maksimal sehingga sampah yang akan diberikan ke TPA benar-benar tidak memiliki daya jual. Selain itu, SAMPAH merupakan doa bagi karyawan yang berkerja di TPST 3R Mulyoagung Bersatu karena SAMPAH memiliki singkatan mulia yaitu “Semoga Allah Melimpahkan Pahala Atas HambaNya”

TPST 3R Mulyoagung Bersatu setiap harinya mengolah sekitar 133 m3 dari 9523 rumah atau setara dengan 11200-an kepala keluarga. Pengangkutan sampah dari rumah warga setiap harinya dilakukan satu kali pada pagi hari. Di TPST 3R Mulyoagung Bersatu ini terdiri dari 5 zona. Pertama, zona pemilahan awal dimana sampah yang datang kemudian dipilah terlebih dahulu. Kemudian zona pemackingan. Untuk zona ketiga adalah composting, dan zona keempat adalah peternakan kambing dan perikanan. Sedangkan zona terakhir adalah administrasi. Sampah dari warga yang masuk ke TPST 3R Mulyoagung Bersatu diawali dengan proses pemilahan. Proses pemilahan dikategorikan berdasarkan bahannya (kantong/botol plastik, kertas/kardus, sisa makanan, kaca, dan besi). Setelah proses ini, sampah-sampah tadi dipilah kembali berdasarkan warnanya. Sampah-sampah yang telah melewati proses pemilahan akan dikemas dengan cara dimasukkan ke dalam karung ataupun dipress secara manual atau mesin lalu kemudian dijual ke pembeli/pengepul. Saat ini ada lima mitra yang bekerja sama untuk mengambil sampah yang telah dipilah. 

Gambar 2. Proses pemilahan sampah oleh pegawai

Gambar 3. Proses kerja TPST Mulyoagung Bersatu

 Saat ini, TPST 3R Mulyoagung Bersatu memiliki 80 orang pegawai. Sedangkan hasil pengolahan sampah TPST 3R Mulyoagung Bersatu terdiri dari 39% sampah organik yang kemudian dijadikan kompos, 49% sampah non organik yang kemudian dijual kembali kepada mitra-mitra yang telah bekerja sama, sedangkan 12% sisanya adalah residu yang tidak dapat dimanfaatkan lagi untuk kemudian dibuang ke tempat pembuangan akhir untuk dijadikan biogas. TPST 3R Mulyoagung Bersatu telah menjadi percontohan TPST nasional dan telah dikunjungi dari beberapa negara, diantaranya Jerman, Jepang, Australia, dan Amerika Serikat. Dalam jangka panjang, TPST 3R Mulyoagung ingin mengembangkan TPST ini menjadi salah satu tujuan wisata edukasi bagi masyarakat umum.

Cintya Finastika, volunteer Earth Hour Malang merasa banyak hal yang bisa dipelajari dari Kumbang tersebut, mulai dari pengambilan sampah sampai cara memilah sampah. “Sampah yang selama ini aku anggap nggak berguna, jadi pundi-pundi rupiah disini. Semua jenis sampah termasuk sisa makanan ada nilai jualnya di tangan orang-orang disini” ujar Cintya. 
Gambar 4. Volunteer Earth Hour Malang
SHARE
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment